KONSTRUKSI
SOSIAL MEDIA MASSA
Realitas sosial tidak berdiri sendiri tanpa
kehadiran individu baik di dalam maupun di luar realitas tersebut. Realitas
sosial itu memiliki makna, manakala realitas sosial dikonstruksi dan dimaknakan
secara subjektif oleh individu lain sehingga memantapkan realitas itu secara
objektif. Individu mengkonstruksi realitas sosial dan merekonstruksikannya
dalam dunia realitas itu berdasarkan subjektifitas individu lain dalam
institusi sosialnya.
Menurut
Bungin, istilah konstruksi sosial atau realitas menjadi terkenal sejak
dipernalkan pertama sekali oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann melalui
buku mereka berjudul: The Social Construction of Reality, a Treatise in the
Sociological of Knowledge (1996). Dua ilmuan sosiologi itu menggambarkan
proses sosial melalui tindakan dan interaksinya, yang mana individu menciptakan
secara terus menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara
subjektif.[1]
Asal
mula konstruksi sosial dari filsafat konstruktivisme, yang dimulai dari gagasan
konstruktif kognitif. Menurut Von Glaserfeld,pengertian konstruksi kognitif
muncul pada abad ini. Dalam tulisan Mark Baldwin yang secara luas diperdalam
dan disebarkan oleh Jean Piaget. Namun,apabila ditelusuri,sebenarnya
gagasan-gagasan pokok konstrukvitisme sebenarnya telah dimulai oleh
Giambatissta Vico,seorang epistimolog dari Italia,ia adalah cikal baakal
konstruktivisme (Suparno,1997: 24)
Berger
dan Luckman kemudian melalui social Construction of Reality (1965),menulis tentang konstruksi sosial atas
realitas sosial dibangun secara simultan melalui tiga proses yaitu
eksternalisasi, objektivasi,dan internalisasi. Proses stimultan ini terjadi
antara individu satu dengan individu lainnya didalam masyarakat. Bangunan
realitas yang tercipta karena proses sosial tersebut adalah objektif,subjektif
dan simbolisatau intersubjektif. [2]
Substansi teori dan pendekatan konstruksi
sosial atas realitas Berger dan Luckman adalah proses simultan yang terjadi
secara alamiah melalui bahasa dalam kehidupan sehari-hari pada sebuah komunitas
primer dan semi-sekunder. Basis sosial
teori dan pendekatan ini ialah masyarakat transisi-modern di Amerika pada
sekitar tahun 1960-an, di mana media massa belum menjadi sebuah fenomena yang
menarik untuk dibicarakan. Dengan demikian, teori konstruksi sosial atas
realitas Peter L. Berger dan Thomas Luckman tidak memasukkan media massa
sebagai variabel atau fenomena yang berpengaruh dalam konstruksi sosial atas
realitas.
Pada kenyatannya konstruksi sosial atas
realitas berlangsung lamban, membutuhkan waktu yang lama, bersifat spasial, dan
berlangsung secara hierarkis-vertikal, di mana konstruksi sosial berlangsung
dari pimpinan kepada bawahannya, pimpinan kepada massanya, kyai kepada
santrinya, guru kepada muridnya, orang tua kepada anaknya, dan sebagainya.
Oleh sejumlah pakar sosiologi, konstruksi
sosial atas realitas tersebut hampir tidak bisa dipisahkan dalam jajaran
teori-teori komunikasi massa. Dalam perkembangannya, ilmu komunikasi massa
sebagai bagian dari ilmu komunikasi telah mengalami kemajuan yang sedemikian
pesat hingga saat ini. Gagasan awal Aristoteles, yaitu (a) komunikator, (b)
pesan, dan (c) penerima, telah diperpanjang pula oleh gagasan Harold Dwight
Lasswell menjadi: (1) who, (b) say what, (c) in with what
channel, (d) to whom, (e) whith, effect.
Model komunikasi ini sarat dengan asumsi yang
intinya yaitu; jika komunikator menentukan gagasan atau pesan, kemudian
diarahkan kepada khalayak (audiens) pilihannya melalui saluran atau keluar
hasil yang diinginkan. Dari komunikator kepada khalayak hanya ada satu jalan,
dengan arus satu arah pula. Ini adalah paradigma lama yang bertumpu pada
konsepsi linier yang menggambarkan proses komunikasi secara sederhana seolah
berjalan menurut garis lurus, seperti: (a) komunikator menciptakan pesan, (b)
untuk diteruskan kepada komunikan, (c) yang akan meluncur lewat saluran, (d)
dan akhirnya melahirkan gagasan sesuai dengan harapan komunikator.[3]
Bagi
kalangan masyarakat tertentu khususnya tokoh, pemuka masyarakat, media massa
merupakan insfrastruktur kekuasaan (power). Adapun kebijakan perundang-undangan, peraturan,
dan lainnya, merupakan refleksi dari keterlibatan kalangan “dominant class”.
Di lain pihak, kalangan
masyarakat (subordinate class) menghadapkan media massa sebagai alat
kontrol sosial dan perubahan. Dengan demikian jelas sekali bahwa media massa
dihadapkan suatu dilema, yakni menghadapi berbagai benturan kepentingan.
Kelangsungan hidup media massa
jelas tergantung pada bagaimana memelihara keseimbangan diantara berbagai
kepentingan tersebut. Misalnya, apabila yang diutamakan hanya kepentingan “dominant
class”, maka media massa tersebut akan lalu di pasaran, dalam arti banyak
khalayaknya.
Di lain pihak, apabila hanya
mementingkan kepentingan dan kebutuhan khalayak, sementara kebutuhan “dominant
class” diabaikan, maka bisa jadi media massa tersebut akan dikenakan
tindakan hukum.10 Sementara itu, faktor manusia (human factor) mulai
diakui dengan lahirnya komunikasi umpan balik atau komunikasi yang
memperhatikan khalayak, yang kemudian lebih populer dengan istilah komunikasi (two
way communications).
Pada
proses panjang perjalanan teori-teori ilmu komunikasi massa selanjutnya, pada
akhirnya sejumlah sosiolog mulai memformulakan sebuah model teori yang disebut
dengan teori konstruksi sosial yang sering terjadi dalam media massa,
sebagaimana yang dikemukakan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann.[4]
Pendapat Asas Teori
Jika kita telaah terdapat beberapa asumsi dasar
dari Teori Konstruksi Sosial Berger dan Luckmann. Adapun asumsi-asumsinya
tersebut adalah:
1.
Realitas
merupakan hasil ciptaan manusia kreatif melalui kekuataan konstruksi sosial
terhadap dunia sosial di sekelilingnya.
2.
Hubungan
antara pemikiran manusia dan konteks sosial tempat pemikiran itu timbul,
bersifat berkembang dan dilembagakan.
3.
Kehidupan
masyarakat itu dikonstruksi secara terus menerus.
Membedakan antara realitas dengan pengetahuan.
Realitas diartikan sebagai kualitas yang terdapat di dalam kenyataan yang
diakui sebagai memiliki keberadaan (being) yang tidak bergantung kepada
kehendak kita sendiri. Sementara pengetahuan didefinisikan sebagai kepastian
bahwa realitas-realitas itu nyata (real)
dan memiliki karakteristik yang spesifik. Frans M. Parera (Berger dan Luckmann,
1990: xx) menjelaskan, tugas pokok sosiologi pengetahuan adalah menjelaskan
dialektika antara diri (self) dengan dunia sosiokultural.
Dialektika ini berlangsung dalam proses dengan
tiga “moment” simultan.
1. Eksternalisasi (penyesuaian diri) dengan dunia
sosiokultural sebagai produk manusia.
2. Obyektivasi, yaitu interaksi sosial yang
terjadi dalam dunia intersubyektif yang dilembagakan atau mengalami proses
institusionalisasi.
3. Internalisasi, yaitu proses di mana individu
mengidentifikasikan dirinya dengan lembaga-lembaga sosial atau organisasi
sosial tempat individu menjadi anggotanya.
Parera
menambahkan bahwa tiga momentum dialektika itu memunculkan suatu proses
konstruksi sosial yang dilihat dari segi asal mulanya merupakan hasil ciptaan
manusia, yaitu buatan interaksi intersubjektif.[5]
Tahap Menyiapkan Materi
Konstruksi
Menyiapkan materi konstruksi sosial media massa adalah
tugasredaksi media massa, tugas
itu didistribusikan pada desk editor yang ada di setiap media massa.
Masing-masing media memiliki desk yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan dan
visi suatu media, Isu- isu penting setiap hari menjadi fokus media massa,
terutama yang berhubungan tiga hal, yaitu kedudukan (tahta), harta, dan
perempuan.
Fokus pada kedudukan termasuk juga adalah persoalan
jabatan, pejabat, dan kinerja birokrasi dan layanan publik. Sedang kan yang
berhubungan dengan harta menyangkut persoalan kekayaan, kernewahan materi,
termasuk juga adalah persoalan korupsi dan sebagainya. Masalah perempuan
menyangkut aurat, wanita cantik dan segala macam aktivitas mereka, terutama
yang berhubungan dengan kekuasaan dan harta.
Selain
tiga hal itu ada juga fokus-fokus lain, seperti informasi yang sifatnya
menyentuh perasaan banyak orang, yaitu persoalan-persoalan sensivitas,
sensualitas, maupun kengerian. Sensivitas menyangkut persoalan-persoalan
sensitif di masyarakat, seperti isu-isu yang meresahkan masyarakat atau agama
tertentu. Sensualitas, yaitu yang berhubungan dengan seks, aurat, syahwat, maupun
aktivitas yang berhubungan dengan objek-objek itu, sampai dengan
masalah-masalah pornomedia.[6]
Ada tiga hal penting dalam penyiapan materi konstruksi
sosial:
1.
Keberpihakan media massa
kepada kapitalisme. Sebagaimana diketahui, saat ini hampir tidak ada lagi media
massa yang tidak dimiliki oleh kapitalis. Dalam arti, media massa digunakan
oleh kekuatan-kekuatan kapital untuk menjadikan media massa sebagai mesin
penciptaan uang dan pelibatgandaan modal. Dengan demikian, media massa tidak
bedanya dengan supermarket, pabrik kertas, pabrik uranium, dan sebagainya.
Semua elemen media massa, termasuk orang-orang media massa berpikir untuk
melayani kapitalisnya, ideologi mereka adalah membuat media massa yang laku di
masyarakat.
2.
Keberpihakan semu kepada
masyarakat. Bentuk dari keberpihakan ini adalah dalam bentuk empati, simpati
dan berbagai partisipasi kepada masyarakat, namun ujung-ujungnya adala juga
untuk "menjual berita" dan menaikan rating untuk kepentingan
kapitalis. Kasus yang dapat dilihat dari keberpihakan seperti ini adalah
umpamanya, pemberitaan MetroTV tentang tsunami yang melanda Aceh, Nias,
dan sekitarnya dalam kemasan beritla "Indonesia Menangis" dan
semacamnya yang terus-menerus diekspose bahkan sampai pada sisi yang telah
meninggalkan hak-hak sumber berita. Begitu pula fenomena reality show set macam
bedah rumah (RCTI), rezeki nomplok (ANTV) dan sebagainya, acara semacam API,
KDI dan Indonesian Idol, yang mengekspos kesedihan dan air mata, semacam acara
derap hukum (SCTV), kriminal dan sebagainya, berbagai sinetron yang mengumbar
empati, simpati, maupun kontroversi.
3.
Keberpihakan kepada
kepentingan umum. Bentuk keberpihakan kepada kepentingan umum dalam arti
sesungguhnya sebenarnya adalah visi setiap media massa, namun akhir-akhir ini
visi tersebut tak pernah menunjukkan jati dirinya, namun slogan-slogan tentang
visi ini tetap terdengar.
Jadi, dalam menyiapkan materi konstruksi, media
massa memosisikan diri pada tiga hal tersebut di atas, namun pada umumnya
keberpihakan kepada kepentingan kapitalis menjadi sangat dominan mengingat
media massa adalah mesin produksi kapitalis yang mau ataupun tidak harus
menghasilkan keuntungan. Dengan demikian, apabila keberpihakan media massa pada
masyarakat, maka sudah tentu keberpihakan itu harus menghasilkan uang untuk
kantung kapitalis pula.
Tidak jarang dalam menyiapkan sebuah materi
pemberitaan, terjadi pertukaran kepentingan di antara pihak-pihak yang
berkepentingan, seperti pihak-pihak yang berkepentingan dengan sebuah
pemberitaan, membeli halaman-halaman tertentu atau jam-jam siaran tertentu
dengan imbalan pertukaran, bukan saja uang dan materi lain, akan tetapi bisa
jadi sebuah blow up terhadap pencitraan terhadap pihak-pihak yang membeli
pemberitaan itu.
Pada
kasus iklan, contoh-contoh pertukaran lebih jelas, karena sistem pertukarannya
juga jelas. Namun karena alasan etika dan kepentingan berbagai pihak, maka
aturan pertukaran itu sengaja disamarkan agar semua pihak akan terlindungi.[7]
Tahap
Sebaran Konstruksi
Sebaran konstruksi media massa dilakukan melalui
strategi media massa. Konsep konkret strategi sebaran media massa masing-masing
media berbeda, namun prinsip utamanya adalah real-time. Media elektronik
memiliki konsep real-time yang berbeda dengan media cetak. Karena
sifat-sifatnya yang langsung (live), maka yang dimaksud dengan real-time
oleh media elektronik adalah seketika disiarkan, seketika itu juga pemberitaan
sampai ke pemirsa atau pendengar.
Namun bagi varian-varian media cetak, yang dimaksud
dengan real-time terdiri dari beberapa konsep hari, minggu atau bulan, seperti
terbitan harian, terbitan mingguan atau terbitan beberapa mingguan, atau
bulanan. Walaupun media cetak memiliki konsep real-time yang sifatnya tertunda,
namun konsep aktualitas menjadi pertimbangan utama sehingga pembaca merasa
tepat waktu memperoleh berita tersebut. Selain media elektronik dan media
cetak, sebaran konstruksi juga dapat menggunakan varian media lain, seperti
media luar ruang, media langsung, dan media lainnya.
Pada
umumnya, sebaran konstruksi sosial media massa menggunakan model satu arah, di
mana media menyodorkan informasi sementara konsumen media tidak memiliki
pilihan lain kecuali mengonsumsi informasi itu. Model satu arah ini terutama
terjadi pada media cetak. Sedangkan media elektronik khususnya radio, bisa
dilakukan dua arah, walaupun agenda setting konstruksi masih didominasi oleh
media.
Tahap
pembentukan konstruksi
A. Tahap pembentukan konstruksi realitas
Tahap berikut setelah sebaran konstruksi, di mana
pemberitaan telah sampai pada pembaca dan pemirsanya, yaitu terjadi pembentukan
konstruksi di masyarakat melalui tiga tahap yang berlangsung.
1.
Konstruksi realitas
pembenaran sebagai suatu bentuk konstruksi media massa yang terbentuk di
masyarakat yang cenderung membenarkan apa saja yang ada (tersaji) di media
massa sebagai suatu realitas kebenaran.
2.
Kesediaan dikonstruksi
oleh media massa, yaitu sikap generik dari tahap pertama. Bahwa pilihan orang
untuk menjadi pembaca dan pemirsa media massa adalah karena pilihannya untuk
bersedia pikiran-pikirannya dikonstruksi oleh media massa.
3.
Menjadikan konsumsi
media massa sebagai pilihan konsumtif, di mana seseorang secara habit
tergantung pada media massa. Media massa adalah bagian kebiasaan hidup yang tak
bisa dilepaskan.
B.
Tahap
pembentukan konstruksi citra
Konstruksi citra yang dimaksud bisa berupa bagaimana
konstruksi citra pada sebuah pemberitaan ataupun bagaimana konstruksi citra
pada sebuah iklan. Konstruksi citra pada sebuah pemberitaan biasanya disiapkan
oleh orang-orang yang bertugas di dalam redaksi media massa, mulai dari
wartawan, editor, dan pimpinan redaksi. Sedangkan konstruksi citra pada sebuah
iklan biasanya disiapkan oleh para pembuat iklan, misalnya copywriter.
Pembentukan konstruksi citra ialah bangunan yang
diinginkan oleh tahap-tahap konstruksi. Di mana bangunan konstruksi citra yang
dibangun oleh media massa ini terbentuk dalam dua model, yakni model good
news dan model bad news. Model good news adalah sebuah
konstruksi yang cenderung mengkonstruksi suatu pemberitaan sebagai pemberitaan
yang baik. Sedangkan model bad news adalah sebuah konstruksi yang
cenderung mengkonstruksi kejelekan atau memberi citra buruk pada objek
pemberitaan.[8]
C.
Tahap
konfirmasi
Konfirmasi adalah tahapan ketika media massa maupun
pembaca dan pemirsa memberi argumentasi dan akunbilitas terhadap pilihannya
untuk terlibat dalam tahap pembentukan konstruksi. Bagi media, tahapan ini perlu
sebagai bagian untuk memberi argumentasi terhadap alasan-alasannya konstruksi
sosial. Sedangkan bagi pemirsa dan pembaca, tahapan ini juga sebagai bagian
untuk menjelaskan mengapa ia terlibat dan bersedia hadir dalam proses
konstruksi sosial.
Asal usul konstruksi sosial dari filsafat
konstruktivisme yang dimulai dari gagasan-gagasan konstruktif kognitif. Menurut
Von Glaserfeld, pengertian konstruktif kognitif muncul pada abad ini dalam
tulisan Mark Baldwin yang secara luas diperdalam dan disebarkan oleh Jean
Piaget. Namun, apabila ditelusuri, sebenarnya gagasan-gagasan pokok
konstruktivisme sebenarnya telah dimulai oleh Giambatissta Vico, seorang
epistemolog dari Italia, ia adalah cikal bakal konstruktivisme.
Dalam aliran filsafat, gagasan konstruktivisme telah
muncul sejak Socrates menemukan jiwa dalam tubuh manusia, sejak Plato menemukan
akal budi dan ide. Gagasan tersebut semakin lebih konkret lagi setelah
Aristoteles mengenalkan istilah, informasi, relasi, individu, substansi,
materi, esensi, dan sebagainya.
Ia mengatakan bahwa, manusia adalah makhluk sosial,
setiap pernyataan harus dibuktikan kebenarannya, bahwa kunci pengetahuan adalah
logika dan dasar pengetahuan adalah fakta. Aristoteles pulalah yang telah
memperkenalkan ucapannya „Cogoto, ergo sum‟ atau „saya berfikir karena
itu saya ada‟. Kata-kata Aristoteles yang terkenal itu menjadi dasar yang kuat
bagi perkembangan gagasan-gagasan konstruktivisme sampai saat ini.
Berger dan Luckman mulai menjelaskan realitas sosial
dengan memisahkan pemahaman „kenyataan dan pengetahuan‟. Realitas diartikan sebagai
kualitas yang terdapat di dalam realitas-realitas yang diakui sebagai memiliki
keberadaan (being) yang tidak tergantung kepada kehendak kita sendiri.
Pengetahuan didefinisikan sebagai kepastian bahwa realitas-realitas itu nyata (real)
dan memiliki karakteristik yang spesifik.[9]
Berger dan Luckman mengatakan terjadi dialektika antara
indivdu menciptakan masyarakat dan masyarakat menciptakan individu. Proses
dialektika ini terjadi melalui eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi.
Proses dialektis tersebut mempunyai tiga tahapan; Berger menyebutnya sebagai momen. Ada tiga
tahap peristiwa.
Pertama, eksternalisasi, yaitu usaha pencurahan atau
ekspresi diri manusia ke dalam dunia, baik dalam kegiatan mental maupun fisik.
Ini sudah menjadi sifat dasar dari manusia, ia akan selalu mencurahkan diri ke
tempat dimana ia berada. Manusia tidak dapat kita mengerti sebagai ketertutupan
yang lepas dari dunia luarnya. Manusia berusaha menangkap dirinya, dalam proses
inilah dihasilkan suatu dunia dengan kata lain, manusia menemukan dirinya
sendiri dalam suatu dunia.
Kedua, objektivasi, yaitu hasil yang telah dicapai baik
mental maupun fisik dari kegiatan eksternalisasi manusia tersebut. Hasil dari
eksternalisasi kebudayaan itu misalnya, manusia menciptakan alat demi kemudahan
hidupnya atau kebudayaan non-materil dalam bentuk bahasa. Baik alat tadi maupun
bahasa adalah kegiatan ekternalisasi manusia ketika berhadapan dengan dunia, ia
adalah hasil dari kegiatan manusia. Setelah dihasilkan, baik benda atau bahasa
sebagai produk eksternalisasi tersebut menjadi realitas yang objektif. Bahkan ia dapat menghadapi manusia sebagai
penghasil dari produk kebudayaan. Kebudayaan yang telah berstatus sebagai
realitas objektif, ada di luar kesadaran manusia, ada “di sana” bagi setiap
orang. Realitas objektif itu berbeda dengan kenyataan subjektif perorangan. Ia
menjadi kenyataan empiris yang bisa dialami oleh setiap orang.
Ketiga, internalisasi. Proses internalisasi lebih
merupakan penyerapan kembali dunia objektif ke dalam kesadaran sedemikian rupa
sehingga subjektif individu dipengaruhi oleh struktur dunia sosial. Berbagai
macam unsur dari dunia yang telah terobjektifkan tersebut akan ditangkap
sebagai gejala realitas diluar kesadarannya, sekaligus sebagai gejala internal
bagi kesadaran. Melalui internalisasi, manusia menjadi hasil dari masyarakat.
Menurut Berger, realitas itu tidak dibentuk secara
ilmiah, tidak juga sesuatu yang diturunkan oleh Tuhan. Tetapi sebaliknya, ia
dibentuk dan dikonstruksi. Dengan pemahaman semacam ini, realitas berwajah
ganda/plural.
Setiap orang bisa mempunyai konstruksi yang
berbeda-beda atas suatu realitas. Setiap orang yang mempunyai pengalaman,
preferensi, pendidikan tertentu, dan lingkungan pergaulan atau sosial tertentu
akan m Susbtansi teori dan pendekatan konstruksi sosial atas realitas dari
Berger dan Luckmann adalah pada proses simultan yang terjadi secara alamiah
melalui bahasa dalam kehidupan sehari-hari pada sebuah komunitas primer dan
semi sekunder. Basis sosial teori dan pendekatan ini adalah[10]
[11]transisi-modern
di Amerika pada sekitar tahun 1960-an, dimana media massa belum menjadi sebuah
fenomena yang menarik untuk dibicarakan.
Dengan demikian Berger
dan Luckmann tidak memasukan media massa sebagai variabel atau fenomena yang
berpengaruh dalam konstruksi sosial atas realitas. Teori dan pendekatan
konstruksi sosial atas realitas Peter L. Berger dan Thomas Luckmann telah
direvisi dengan melihat variabel atau fenomena media massa menjadi sangat
substansi dalam proses eksternalisasi, subyektivasi, dan internalisasi inilah
yang kemudian dikenal sebagai “konstruksi sosial media massa”enafsirkan
realitas sosial itu dengan konstruksinya masing-masing.
Susbtansi teori dan pendekatan konstruksi sosial atas
realitas dari Berger dan Luckmann adalah pada proses simultan yang terjadi
secara alamiah melalui bahasa dalam kehidupan sehari-hari pada sebuah komunitas
primer dan semi sekunder. Basis sosial teori dan pendekatan ini adalah
transisi-modern di Amerika pada sekitar tahun 1960-an, dimana media massa belum
menjadi sebuah fenomena yang menarik untuk dibicarakan.
Dengan demikian Berger dan Luckmann tidak memasukan
media massa sebagai variabel atau fenomena yang berpengaruh dalam konstruksi
sosial atas realitas. Teori dan pendekatan konstruksi sosial atas realitas
Peter L. Berger dan Thomas Luckmann telah direvisi dengan melihat variabel atau
fenomena media massa menjadi sangat substansi dalam proses eksternalisasi,
subyektivasi, dan internalisasi inilah yang kemudian dikenal sebagai
“konstruksi sosial media massa”
Penulis mencoba menyajikan dalam sebuah matrik tentang
konstruksi sosial sebagaimana yang disampaikan Bungin dalam teori Berger dan
Luckmann, sebagai berikut:
Sumber: Burhan Bungin,
2014, Sosiologi Komunikasi, Prenadamedia Grup, Jakarta. h.208
DAFTAR PUSTAKA
Bungin,Burhan. Sosiologi
Komunikasi,Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.2006.
Santoso Puji. Konstruksi
Sosial Media Massa. Jurnal Al-Balagh 1(1) : 30-48
[2]
Lihat Burhan Bungin,Sosiologi komunikasi,Kencana
Prenada Media Group,Jakarta,2006,hlm.292.
[3] Lihat
Puji Santoso,Konstruksi Sosial Media Massa, Jurnal
Al-Balagh,2016,hlm.32.
[4] Lihat
Puji Santoso,Konstruksi Sosial Media Massa, Jurnal
Al-Balagh,2016,hlm.33.
[5] Lihat
Puji Santoso,Konstruksi Sosial Media Massa, Jurnal Al-Balagh,2016,hlm.34
[6] Lihat
Puji Santoso,Konstruksi Sosial Media
Massa, Jurnal Al-Balagh,2016,hlm.34.35.
[8] Lihat
Puji Santoso,Konstruksi Sosial Media Massa, Jurnal
Al-Balagh,2016,hlm.37.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar